Makanan organik? Seperti apa itu? Jangan-jangan malah tidak ada rasanya. Itulah anggapan yang muncul selama ini karena kurangnya informasi. Padahal itu justru makanan sehat yang bahan bakunya tumbuh tanpa pestisida, tanpa pupuk kimia dan tak ada rekayasa genetika.
Produk jadi dalam kemasannya pun tanpa pengawet, tanpa penambah rasa dan tidak menggunakan zat warna. Selain itu tetap ada ikan dan daging sapi organik.
Dalam era modern ini, terutama di kota besar seperti Jakarta, yang setiap harinya terjadi polusi, hidup sehat lewat pola makan sangat penting. Mengonsumsi makanan organik merupakan salah satu cara untuk menjaga hidup selalu sehat.
“Sudah waktunya kita menjaga kesehatan lewat pola makanan dengan menu makanan organik,” kata Anti Suryaman, License Compliance Manager PT Microsoft Indonesia.
Ketika ditemui di Restoran Organik Healthy Choice di kawasan Kemang saat makan malam, Anti bersama dua putrinya, Fadia, 7, dan Icha, 5, sedang menyantap wakame ramen atau mi rumput laut, sup kesehatan dengan bumbu organik plus tahu dan telur. Sementara minumannya dia memilih bragg vinegar drink, minuman vinegar dengan tambahan madu.
Anti memang orang yang gemar makan sayur-sayuran, tapi bukan berarti tidak memakan daging. Sedangkan untuk ikan, dia menyukai berbagai jenis.
“Makanan organik ini menyehatkan. Sebelumnya saya pikir tak enak, ternyata lezat, dan fresh,” ujarnya seraya menambahkan bahwa dirinya akan senantiasa mengonsumsi makanan organik.
Di restoran organik ini, selain disediakan berbagai menu, juga tersedia produk makanan kemasan yang kebanyakan diimpor dari Taiwan, AS, Jerman, Swiss, Australia dan Selandia Baru. “Bahan lokalnya beras, sayur, telur ayam dan ayam. Tapi daging ayam sekarang distop,” kata Stevan Lie, direktur operasional Healthy Choice.
Menurut dia, ayam dipakai hanya untuk kaldu, tapi sekarang cenderung lebih ke vegetarian dengan memakai kombu, sejenis rumput laut terutama untuk yang vegeta- rian. “Di sini bukan restoran vegetarian, tapi kami menyediakannya. Kami merupakan pionir untuk healthy food yang dimulai pada 2001,” paparnya.
Awal berdirinya restoran orgnik ini dari klinik detox yang tujuannya untuk proses pencucian usus besar. Pencucian usus besar ini bukan hanya untuk mereka yang punya masalah dengan usus besar.
Bagi kebanyakan orang memang ada kerancuan soal makna organik. Makanan organik berbeda dengan vegetable walau dari media yang sama yaitu tanah.
Beda pula dengan makanan dari hidroponik yang bermedia air. Organik dalam penanamannya tanpa menggunakan pestisida, tanpa pupuk kimia, yang digunakan pupuk alami dan tak ada rekayasa genetika.
Berlakunya lebih pendek
Nah bicara soal produk jadi, makanan organik dalam kemasan tanpa pengawet, tanpa penambah rasa dan tanpa zat pewarna. Karena itu masa berlakunya lebih pendek yaitu enam bulan sampai sembilan bulan, beda dengan produk non organik yang masa kadaluwarsanya sampai dua tahun. “Bisnis ini termasuk berisiko tinggi,” kata Stevan.
Untuk sapi organik, dalam pemeliharaannya harus diberi rumput organik dan tidak pernah disuntik antibiotik.
Awalnya lima tahun lalu, Riani Susanto N.D membuka klinik pengobatan herbal. Para pasiennya disarankan untuk mengonsumsi makanan sehat organik. Tapi kemudian mereka bertanya di mana membelinya.
Ubah paradigma
Yang paling dekat waktu itu di Singapura. Setelah Riani Susanto bertemu dengan Stevan, sarjana teknik industri lulusan Universitas Trisakti, pada 2002 mulai menyediakan makanan organik dan dua tahun kemudian di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta membuka detox center, organic store dan organic resto dengan nama Healthy Choice. Pada akhir tahun lalu dibuka cabang di kawasan Kemang Raya.
Memperkenalkan makanan organik tak mudah karena harus mengedukasi dan mengubah paradigma lama bahwa makanan sehat tak bedanya seperti makanan rumah sakit yang rasanya tak enak.
Padahal, kata Stevan, makanan organik ini seperti makanan pada umumnya, hanya mengubah bumbu masaknya misalnya tak menggunakan bumbu penyedap, seperti laksa yang disajikan tak pakai santan, tapi menggunakan susu kacang kedele.
Gorengannya pun menggunakan minyak yang terbuat dari biji anggur yang memiliki titik didih tinggi. Minyak zaitun baik tapi titik tingginya hanya sampai 80 derajat Celcius.
“Kami punya tujuan idealis menyediakan makanan organik ini, selain bisnis yang mencari profit. Di sini tak ada resep yang dirahasiakan, dapurnya terbuka dan bila pengunjung mau tahu cara memasaknya, diberikan penjelasan,” ujar Stevan seraya menambahkan bahwa dengan cara demikian pihaknya ikut menyehatkan masyarakat lewat makanan organik.
Pada kenyataannya memang masih banyak yang berpikiran, dengan tidak memakan makanan organik tak apa-apa. Memang, di tubuh manusia ada ginjal yang mampu menyaring racun dari makanan, tapi seberapa lama kekuatan ginjal itu melawan racun yang setiap hari dikonsumsi. Apalagi usia semakin tua.
“Makanan organik ini sangat baik terutama untuk orang yang ingin hidup sehat, apalagi yang berusia 40 tahun hingga 60 tahun” kata Jacob Suntoso, pengusaha yang bergerak di bidang properti.
Jacob menjaga kesehatan sejak usia 25 tahun dengan mengonsumsi sereal setiap hari untuk sarapan dan makan malam. “Kecuali ada acara dinner,” katanya.
Untuk makan siangnya, kata Jacob, bebas saja, tapi tetap memilih makanan sehat dan banyak minum air putih.
Untuk menjaga kesehatan, pria yang tidak merokok dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol itu selalu mengurangi makanan berlemak. Selain sereal, setiap pagi dia mengonsumsi buah-buahan dan pada siang hari tak lupa minum jus. “Biar hidup sehat dan urusan lancar,” katanya sambil tertawa.
Menurut Jacob, kalau mau mencari makanan sehat di Jakarta, tak banyak yang komplet. Yang jelas, makanan sehat ini beda rasa dengan makanan pada umumnya, karena tak menggunakan bumbu penyedap.
“Di restoran lain kebanyakan menggunakan bumbu penyedap, kecuali makanan Jepang.”
Sementara musisi jazz ternama, Ireng Maulana, 61, sudah menjadi langganan restoran organik Healthy Choice sejak tahun lalu di kawasan Kebon Jeruk.
“Aneh dan keren kemasannya. Saya menyukai karena rasanya enak yang banyak terbuat dari tumbuh-tumbuhan dan sayur mayur,” katanya.
Ireng memang menghindari mengonsumsi daging kecuali ikan. Pemusik jazz itu mengonsumsi makanan organik di restoran langganannya itu paling tidak seminggu dua kali.
Bila ke restoran organik, Ireng memilih sup tom yam yang menggunakan cuka apel dan ikan dory yang diimpor dari Vietnam. Menu utamanya nasi goreng Hawaii yang disajikan di buah nanas. Sedangkan minuman favoritnya es teh ala Thailand. “Saya bisa minum tiga gelas,” katanya sambil tertawa.(Herry Suhendra/JBBI)
Saturday, June 30, 2007
Makanan organik makin diburu
Labels:
artikel kesehatan,
GFO,
Makanan Organik,
Melilea,
susu kedelai,
tips sehat
Makan Makanan Organik supaya Sehat
MEITY Pondaaga (57), pensiunan Citibank yang kini menjadi konsultan perbankan, sekitar empat tahun lalu mulai mengonsumsi sayuran organik.
Keputusan mencoba sayuran organik dipicu oleh tersedianya sayuran tersebut di sebuah toko swalayan. Sebelumnya dia sudah banyak membaca mengenai makanan organik dari majalah-majalah kesehatan asing.
APA yang masuk ke tubuh, semuanya ada efeknya. Obat saja ada efek sampingnya, bagaimana dengan makanan yang kita makan? (Itu) pakai pupuk apa, bahan kimia apa, pasti ada efeknya ke tubuh," kata Meity.
Apa yang kita makan katanya akan menentukan siapa kita. Ungkapan ini tentu saja tidak semata-mata menyangkut makanan apa yang kita makan, di mana kita makan, dan bagaimana kita memakan makanan itu. Pengaruh sangat jelas makanan adalah terhadap kesehatan serta kebugaran tubuh, dan sampai batas tertentu, kecantikan dan kemudaan kita.
Dengan alasan kesehatan itulah kini semakin banyak orang-setidaknya di Jakarta-yang sukarela mau merogoh kantong mereka untuk membeli makanan organik. Makanan itu juga semakin banyak ditawarkan di berbagai toko swalayan, bahkan ada restoran-restoran yang menyediakan menu khusus sayuran dan daging ayam yang diproduksi secara organik.
Meity menyebutkan, alasan mengonsumsi sayur-mayur organik sejak empat tahun lalu adalah demi kesehatan. Ayah Meity menderita sakit jantung, sementara ibunya punya penyakit darah tinggi. Meity khawatir terkena penyakit yang bisa diturunkan itu dan sangat dipengaruhi gaya hidup, yaitu antara lain makanan yang dikonsumsi, karena kedua orangtuanya penggemar olahraga.
Alasan kesehatan pula yang membuat Ny Rosalinda (39), warga di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, mulai mengonsumsi makanan organik sejak setengah tahun lalu setelah membaca artikel mengenai makanan ini di sebuah majalah kesehatan.
"Sayuran dikasih pestisida dan pupuk kimia, ayam dikasih antibiotik dan hormon, ada juga sapi edan (gila-Red), makanan kemasan pakai pewarna tekstil. Benar-benar mengerikan," kata Rosalinda yang menularkan kebiasaan barunya ini kepada dua anak dan suaminya.
Kesadaran untuk hidup sehat dengan mengonsumsi makanan organik ini bukan cuma dilakukan individu-individu. Ny Traute Christa Ongkowijaya (50), warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, menjadi semacam ketua kelompok dari para konsumen makanan organik yang anggotanya sekitar 15 orang. Setiap hari Jumat, sayuran organik dari perkebunan milik Pater Agatho, pelopor sayuran organik di Indonesia, dikirim ke rumahnya.
"Setiap Jumat anggota datang ke rumah saya untuk mengambil sayuran itu. Jenis macam-macam, apa saja yang sedang alam berikan. Yang penting aman," kata Ny Ongkowijaya.
Ny Ongkowijaya mengatakan, alasan kesehatanlah yang membuat dia mengonsumsi sayuran organik. Jakarta, kata dia, sudah sangat terpolusi. "Jakarta kan termasuk tiga kota yang paling terpolusi di dunia. Jadi, sedapat mungkin dari makanan kita tidak semakin mencemari tubuh," kata dia.
KESADARAN untuk mengonsumsi sayuran organik ini tidak terbatas pada mereka yang sudah berusia relatif lanjut. Ibu-ibu muda dari kalangan selebriti, seperti penyanyi Lusy Rahmawati (27) dan Melly Manuhutu (29), serta pembawa acara televisi Sophie Navita (29) juga mulai rajin mengonsumsi sayuran yang mereka yakini sehat itu.
Melly mulai berkenalan dengan sayuran organik karena kebetulan dia tinggal di kawasan Ciburial, Cisarua, Jawa Barat. Di tempat tinggalnya itu dia dengan mudah mendapatkan sayuran organik yang ditanam di kebun milik Pater Agatho.
Penyanyi yang pernah hamil tetapi kemudian keguguran itu memakan beragam sayuran organik, seperti wortel, bayam, selada, lobak, labu siam, tomat, selain ubi, dan pisang. Bahkan ayam dan telur pun dia pilih yang diproduksi secara organik.
Lain lagi alasan Lusy Rahmawati yang mulai mengonsumsi sayuran organik secara teratur setelah kelahiran anak pertamanya, Keitro Jose Purnomo, yang baru berumur satu tahun.
"Makanan organik terutama untuk anakku. Aku sendiri tidak terlalu strict. Untuk anak, aku usahain sedini mungkin tidak mengonsumsi makanan dengan campuran bahan pengawet," kata istri dari sutradara film Jose Purnomo.
Awalnya Lusy masih merasakan harga sayuran tersebut mahal sehingga dia terpaksa tidak sering membeli. Tetapi, begitu hamil dan melahirkan, Lusy mulai mengonsumsi sayuran organik yang dia kenal melalui tawaran di sebuah toko swalayan di dekat rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Alasan penyanyi ini karena sekarang banyak penyakit yang aneh-aneh. "Aku pikir, untuk anakku keluar biaya ekstra tidak apa-apa," papar Lusy.
Pengalaman Sophie Navita dengan sayuran organik juga berhubungan dengan kehamilannya dan ketika dia menyusui sendiri anaknya.
"Awalnya memang buat anak, tetapi akhirnya juga buat keluarga. Jadi, sekalian belanja," kata Navita yang istri dari Pongky, penyanyi kelompok musik Jikustik. "Entah sugesti atau apa, tetapi yang jelas saya merasa lebih segar dan badan lebih ringan setelah banyak mengonsumsi makanan organik," ujarnya.
Begitu juga pengusaha Setiawan Djody (55) mengaku mengonsumsi makanan organik. Dia bahkan mendukung pertanian organik melalui Yayasan Kantata yang dia dirikan 15 tahun lalu. "Saya tertarik dengan pertanian organik setelah bertemu dengan Romo Agatho. Saya kebetulan tertarik pada gaya hidup kembali ke alam," paparnya.
APA pun alasan yang disampaikan para konsumen makanan organik, entah dengan alasan kesehatan atau kembali ke alam, tetapi makanan organik meskipun perlahan semakin populer walaupun harganya berlipat sampai tiga kali dibandingkan dengan makanan non-organik.
Untuk negara dengan peraturan ketat seperti Amerika Serikat (AS), mereka telah memberlakukan sebuah standar tentang apa yang disebut organik, yaitu makanan yang "100 persen organik" dan "organik" (untuk yang setidaknya 95 persen) diproduksi tanpa hormon, antibiotik, herbisida, insektisida, pupuk kimia, tanaman/hewan yang mengalami modifikasi genetis, atau radiasi untuk mematikan kuman (Newsweek, 30/9/2002).
Kesadaran untuk mengonsumsi makanan organik pun tidak selalu sama dari masa ke masa. Ketika budaya tandingan muncul di Barat pada tahun 1970-an-yang kemudian imbasnya juga terasa di Indonesia-konsumen mengambil makan organik sebagai sebuah identitas lebih karena alasan filosofis. Maksudnya, makanan menjadi cara mereka untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap kondisi lingkungan, pilihan politik, bahkan spiritualitas mereka.
Akan tetapi, keadaan ini kini berbalik lebih menjadi alasan praktis, yaitu kesehatan tadi, meskipun di sini jumlah konsumennya masih dari kalangan terbatas mengingat harganya yang jauh lebih mahal tadi.
Alasan kesehatan ini pun masih menjadi pro dan kontra di negara maju seperti AS. Betul pestisida adalah racun yang dimaksudkan untuk membunuh hama penyakit yang mengganggu tanaman, dan antibiotik digunakan untuk menangkal serangan penyakit pada hewan ternak. Tetapi, mereka yang membela penggunaan teknologi-pupuk buatan, pestisida, pangan hasil modifikasi genetika-mengatakan bahwa bahaya utama datang dari bakteri seperti E coli yang terdapat pada kotoran sapi yang menjadi pupuk tanaman organik.
Namun, yang tidak dapat dimungkiri adalah semakin intensifnya penggunaan pestisida dan antibiotik pada pertanian konvensional-pertanian dengan asupan teknologi modern menjadi konvensional dibandingkan dengan pertanian organik yang sebelum munculnya Revolusi Hijau tahun 1960-an dengan teknologi modernnya adalah pertanian konvensional itu sendiri-karena munculnya masalah antara lain hama penyakit yang kebal terhadap pestisida yang ada sampai jenuhnya tanah karena penggunaan pupuk kimia terus-menerus sepanjang tahun.
Untuk lingkungan, pertanian organik dianggap lebih bersahabat terhadap lingkungan karena dia mengambil apa yang berasal dari alam dan dikembalikan ke alam seraya menjaga keragaman hayati karena tidak perlu membunuh makhluk hidup-apakah dia kutu atau serangga pemakan sayuran-secara berlebihan karena penggunaan musuh alami atau pestisida dari bahan tanaman sendiri.
Dan apabila konsumen sekarang memilih makanan organik karena alasan kesehatan, itu akan menjadi sebuah cara untuk ikut memperbaiki lingkungan, sepanjang memang diproduksi dengan cara yang benar-benar organik.
Buat Ny Meity, keyakinan bahwa makanan organik yang dia konsumsi membuatnya lebih sehat adalah hal yang terpenting. "Saya sekarang juga tidak pernah sakit yang berat- berat, paling-paling hanya flu. Tetapi, secara umum saya suka makanan organik karena merasa safe saja," kata Meity.
Soal harga yang bisa 3-4 kali lebih mahal dibandingkan dengan harga sayuran konvensional, Meity melihat itu sebagai harga yang wajar dibayar. Kata Meity, "Daripada beli obat? Ke dokter (kalau sakit), sudah badan kita tersiksa, keluar uang banyak, badan kita kemasukan masih bahan-bahan kimia juga." (EDN/SF/XAR/NMP)
Keputusan mencoba sayuran organik dipicu oleh tersedianya sayuran tersebut di sebuah toko swalayan. Sebelumnya dia sudah banyak membaca mengenai makanan organik dari majalah-majalah kesehatan asing.
APA yang masuk ke tubuh, semuanya ada efeknya. Obat saja ada efek sampingnya, bagaimana dengan makanan yang kita makan? (Itu) pakai pupuk apa, bahan kimia apa, pasti ada efeknya ke tubuh," kata Meity.
Apa yang kita makan katanya akan menentukan siapa kita. Ungkapan ini tentu saja tidak semata-mata menyangkut makanan apa yang kita makan, di mana kita makan, dan bagaimana kita memakan makanan itu. Pengaruh sangat jelas makanan adalah terhadap kesehatan serta kebugaran tubuh, dan sampai batas tertentu, kecantikan dan kemudaan kita.
Dengan alasan kesehatan itulah kini semakin banyak orang-setidaknya di Jakarta-yang sukarela mau merogoh kantong mereka untuk membeli makanan organik. Makanan itu juga semakin banyak ditawarkan di berbagai toko swalayan, bahkan ada restoran-restoran yang menyediakan menu khusus sayuran dan daging ayam yang diproduksi secara organik.
Meity menyebutkan, alasan mengonsumsi sayur-mayur organik sejak empat tahun lalu adalah demi kesehatan. Ayah Meity menderita sakit jantung, sementara ibunya punya penyakit darah tinggi. Meity khawatir terkena penyakit yang bisa diturunkan itu dan sangat dipengaruhi gaya hidup, yaitu antara lain makanan yang dikonsumsi, karena kedua orangtuanya penggemar olahraga.
Alasan kesehatan pula yang membuat Ny Rosalinda (39), warga di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, mulai mengonsumsi makanan organik sejak setengah tahun lalu setelah membaca artikel mengenai makanan ini di sebuah majalah kesehatan.
"Sayuran dikasih pestisida dan pupuk kimia, ayam dikasih antibiotik dan hormon, ada juga sapi edan (gila-Red), makanan kemasan pakai pewarna tekstil. Benar-benar mengerikan," kata Rosalinda yang menularkan kebiasaan barunya ini kepada dua anak dan suaminya.
Kesadaran untuk hidup sehat dengan mengonsumsi makanan organik ini bukan cuma dilakukan individu-individu. Ny Traute Christa Ongkowijaya (50), warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, menjadi semacam ketua kelompok dari para konsumen makanan organik yang anggotanya sekitar 15 orang. Setiap hari Jumat, sayuran organik dari perkebunan milik Pater Agatho, pelopor sayuran organik di Indonesia, dikirim ke rumahnya.
"Setiap Jumat anggota datang ke rumah saya untuk mengambil sayuran itu. Jenis macam-macam, apa saja yang sedang alam berikan. Yang penting aman," kata Ny Ongkowijaya.
Ny Ongkowijaya mengatakan, alasan kesehatanlah yang membuat dia mengonsumsi sayuran organik. Jakarta, kata dia, sudah sangat terpolusi. "Jakarta kan termasuk tiga kota yang paling terpolusi di dunia. Jadi, sedapat mungkin dari makanan kita tidak semakin mencemari tubuh," kata dia.
KESADARAN untuk mengonsumsi sayuran organik ini tidak terbatas pada mereka yang sudah berusia relatif lanjut. Ibu-ibu muda dari kalangan selebriti, seperti penyanyi Lusy Rahmawati (27) dan Melly Manuhutu (29), serta pembawa acara televisi Sophie Navita (29) juga mulai rajin mengonsumsi sayuran yang mereka yakini sehat itu.
Melly mulai berkenalan dengan sayuran organik karena kebetulan dia tinggal di kawasan Ciburial, Cisarua, Jawa Barat. Di tempat tinggalnya itu dia dengan mudah mendapatkan sayuran organik yang ditanam di kebun milik Pater Agatho.
Penyanyi yang pernah hamil tetapi kemudian keguguran itu memakan beragam sayuran organik, seperti wortel, bayam, selada, lobak, labu siam, tomat, selain ubi, dan pisang. Bahkan ayam dan telur pun dia pilih yang diproduksi secara organik.
Lain lagi alasan Lusy Rahmawati yang mulai mengonsumsi sayuran organik secara teratur setelah kelahiran anak pertamanya, Keitro Jose Purnomo, yang baru berumur satu tahun.
"Makanan organik terutama untuk anakku. Aku sendiri tidak terlalu strict. Untuk anak, aku usahain sedini mungkin tidak mengonsumsi makanan dengan campuran bahan pengawet," kata istri dari sutradara film Jose Purnomo.
Awalnya Lusy masih merasakan harga sayuran tersebut mahal sehingga dia terpaksa tidak sering membeli. Tetapi, begitu hamil dan melahirkan, Lusy mulai mengonsumsi sayuran organik yang dia kenal melalui tawaran di sebuah toko swalayan di dekat rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Alasan penyanyi ini karena sekarang banyak penyakit yang aneh-aneh. "Aku pikir, untuk anakku keluar biaya ekstra tidak apa-apa," papar Lusy.
Pengalaman Sophie Navita dengan sayuran organik juga berhubungan dengan kehamilannya dan ketika dia menyusui sendiri anaknya.
"Awalnya memang buat anak, tetapi akhirnya juga buat keluarga. Jadi, sekalian belanja," kata Navita yang istri dari Pongky, penyanyi kelompok musik Jikustik. "Entah sugesti atau apa, tetapi yang jelas saya merasa lebih segar dan badan lebih ringan setelah banyak mengonsumsi makanan organik," ujarnya.
Begitu juga pengusaha Setiawan Djody (55) mengaku mengonsumsi makanan organik. Dia bahkan mendukung pertanian organik melalui Yayasan Kantata yang dia dirikan 15 tahun lalu. "Saya tertarik dengan pertanian organik setelah bertemu dengan Romo Agatho. Saya kebetulan tertarik pada gaya hidup kembali ke alam," paparnya.
APA pun alasan yang disampaikan para konsumen makanan organik, entah dengan alasan kesehatan atau kembali ke alam, tetapi makanan organik meskipun perlahan semakin populer walaupun harganya berlipat sampai tiga kali dibandingkan dengan makanan non-organik.
Untuk negara dengan peraturan ketat seperti Amerika Serikat (AS), mereka telah memberlakukan sebuah standar tentang apa yang disebut organik, yaitu makanan yang "100 persen organik" dan "organik" (untuk yang setidaknya 95 persen) diproduksi tanpa hormon, antibiotik, herbisida, insektisida, pupuk kimia, tanaman/hewan yang mengalami modifikasi genetis, atau radiasi untuk mematikan kuman (Newsweek, 30/9/2002).
Kesadaran untuk mengonsumsi makanan organik pun tidak selalu sama dari masa ke masa. Ketika budaya tandingan muncul di Barat pada tahun 1970-an-yang kemudian imbasnya juga terasa di Indonesia-konsumen mengambil makan organik sebagai sebuah identitas lebih karena alasan filosofis. Maksudnya, makanan menjadi cara mereka untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap kondisi lingkungan, pilihan politik, bahkan spiritualitas mereka.
Akan tetapi, keadaan ini kini berbalik lebih menjadi alasan praktis, yaitu kesehatan tadi, meskipun di sini jumlah konsumennya masih dari kalangan terbatas mengingat harganya yang jauh lebih mahal tadi.
Alasan kesehatan ini pun masih menjadi pro dan kontra di negara maju seperti AS. Betul pestisida adalah racun yang dimaksudkan untuk membunuh hama penyakit yang mengganggu tanaman, dan antibiotik digunakan untuk menangkal serangan penyakit pada hewan ternak. Tetapi, mereka yang membela penggunaan teknologi-pupuk buatan, pestisida, pangan hasil modifikasi genetika-mengatakan bahwa bahaya utama datang dari bakteri seperti E coli yang terdapat pada kotoran sapi yang menjadi pupuk tanaman organik.
Namun, yang tidak dapat dimungkiri adalah semakin intensifnya penggunaan pestisida dan antibiotik pada pertanian konvensional-pertanian dengan asupan teknologi modern menjadi konvensional dibandingkan dengan pertanian organik yang sebelum munculnya Revolusi Hijau tahun 1960-an dengan teknologi modernnya adalah pertanian konvensional itu sendiri-karena munculnya masalah antara lain hama penyakit yang kebal terhadap pestisida yang ada sampai jenuhnya tanah karena penggunaan pupuk kimia terus-menerus sepanjang tahun.
Untuk lingkungan, pertanian organik dianggap lebih bersahabat terhadap lingkungan karena dia mengambil apa yang berasal dari alam dan dikembalikan ke alam seraya menjaga keragaman hayati karena tidak perlu membunuh makhluk hidup-apakah dia kutu atau serangga pemakan sayuran-secara berlebihan karena penggunaan musuh alami atau pestisida dari bahan tanaman sendiri.
Dan apabila konsumen sekarang memilih makanan organik karena alasan kesehatan, itu akan menjadi sebuah cara untuk ikut memperbaiki lingkungan, sepanjang memang diproduksi dengan cara yang benar-benar organik.
Buat Ny Meity, keyakinan bahwa makanan organik yang dia konsumsi membuatnya lebih sehat adalah hal yang terpenting. "Saya sekarang juga tidak pernah sakit yang berat- berat, paling-paling hanya flu. Tetapi, secara umum saya suka makanan organik karena merasa safe saja," kata Meity.
Soal harga yang bisa 3-4 kali lebih mahal dibandingkan dengan harga sayuran konvensional, Meity melihat itu sebagai harga yang wajar dibayar. Kata Meity, "Daripada beli obat? Ke dokter (kalau sakit), sudah badan kita tersiksa, keluar uang banyak, badan kita kemasukan masih bahan-bahan kimia juga." (EDN/SF/XAR/NMP)
Labels:
artikel kesehatan,
GFO,
Makanan Organik,
Melilea,
susu kedelai,
tips sehat
Hidup Sehat dengan Makanan Organik
Tak ada orang yang tak mau hidup sehat. Dengan pola hidup teratur dan menghindari stres, hal itu bisa terpenuhi. Satu hal lain yang patut diperhatikan adalah pemilihan makanan. Seperti apa makanan yang bisa dibilang baik, hingga bisa menunjang pola hidup sehat tersebut. Jenis makanan organik merupakan solusi saat ini.
Hingga sekarang masih banyak orang yang bertanya-tanya mengenai pangan organik. Banyak juga yang mendefinisikannya sebagai makanan segar tanpa bahan kimia dan pestisida. Namun, banyak juga yang menganggap makanan jenis ini adalah makanan khusus orang-orang yang ‘gila’ kembali ke alam. Terlepas dari itu semua, harus diakui jenis makanan ini baik untuk mengurangi efek negatif racun dari berbagai bahan kimia dan pestisida.
Istilah makanan organik tidak sepenuhnya mengacu pada objek makanan tersebut. Namun menyangkut bagaimana proses produksi dan pengolahan makanan. Jadi ada benarnya anggapan jenis makanan diproduksi tanpa menggunakan bahan-bahan kimia beracun.
Sampai sekarang kita tak bisa lepas sepenuhnya dari residu kimia dan pestisida. Contohnya tanah masih tetap mengandung bahan kimia karena penggunaan pupuk urea. Atau polusi udara dan air yang juga turut memberikan andil. Ini karena tidak semua petani Indonesia menggunakan sistem pertanian ekologis – memperhatikan kaidah kesehatan dan lingkungan.
Jadi, apa alasan kuat yang bisa diajukan untuk memilih makanan jenis ini.
Alasan
Hippocrates, pemikir ilmu kesehatan modern, mengungkapkan biarkan makanan menjadi obat Anda dan biarkan obat menjadi makanan Anda. Pemikiran Hippocrates tersebut sekarang digali ulang sebagai landasan mengapa kita seharusnya memilih makanan.
Alasan yang berikutnya adalah masalah masa depan. Generasi penerus kita tidak seharusnya menerima akibat negatif dari apa yang kita lakukan sekarang. Hasil studi terakhir membuktikan bahwa anak-anak terkena empat kali lebih banyak efek pestisida daripada orang dewasa.
Sampai sekarang tercatat setidaknya ada delapan jenis pestisida dalam makanan yang dapat menyebabkan kanker. Pilihan makanan yang non-residu kimia dan pestisida saat ini akan membawa pengaruh penting pada kesehatan generasi mendatang.
Juga masalah ini bersangkutan dengan kemauan kita melindungi kualitas air. Seperti kita tahu, dua pertiga dari tubuh kita mengandung air. Air juga memenuhi dua pertiga isi bumi ini. Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Tapi, hingga sekarang diperkirakan kebanyakan air tanah telah tercemar oleh pestisida.
Sudah ada 38 negara yang tingkat pencemaran airnya melebihi ambang batas, dan mirisnya berarti lebih dari setengah penduduk negara tersebut meminum air tercemar tadi.
Alasan lain adalah penghematan energi. Kebanyakan pertanian modern sekarang menggunakan bahan bakar minyak bumi. Hingga mencapai total 12 persen yang dikonsumsi oleh sektor tersebut. Berarti banyak energi yang dibutuhkan untuk memproduksi pupuk kimia daripada untuk mengolah dan memanen tanaman.
Secara kesehatan, pestisida ternyata bisa juga menyebabkan kanker. Hampir 1,4 juta kasus kanker di dunia disebabkan oleh bahan ini. Ternyata pestisida juga memberikan pengaruh pada cacat kelahiran, kerusakan syaraf dan mutasi genetik.
Memilih makanan ini berarti kita juga menolong kelangsungan hidup petani. Secara kesehatan, para pekerja pertanian terancam saat harus menggunakan pestisida. Ini karena aturan penggunaan pestisida di negara berkembang belum menjamin keamanan penggunaannya. Hingga sekarang diperkirakan satu juta petani mengalami keracunan pestisida per tahunnya. Beberapa jenis pestisida yang dilarang digunakan di negara AS ternyata masih diproduksi dan diekspor ke negara-negara berkembang tersebut.
Keuntungan
Memilih makanan organik ini bila dilihat dari segi nutrisi, ternyata mengandung kandungan gizi lebih baik dibandingkan dengan bahan pangan non-organik. Sehingga secara logika berarti lebih membantu proses pertumbuhan dan perbaikan tubuh bila mengalami masalah.
”Makanan juga jenis ini juga ternyata lebih hemat”, demikian menurut penuturan Ibu Bibong Widyarti D, salah seorang pengguna jenis makanan ini. Hal tersebut bisa dimungkinkan karena jenis makanan ini lebih lama basi, hingga tidak banyak beras yang terbuang, lanjutnya menguatkan.
Jadi, bukanlah hal yang merugikan bila kita memutuskan menggunakan jenis produk makanan ini sebagai alternatif makanan keluarga kita di rumah. Untungnya adalah penghematan proses produksi dan mengurangi tingkat kerusakan lingkungan di bumi yang kita cintai ini.
(str-sulung prasetyo)
Hingga sekarang masih banyak orang yang bertanya-tanya mengenai pangan organik. Banyak juga yang mendefinisikannya sebagai makanan segar tanpa bahan kimia dan pestisida. Namun, banyak juga yang menganggap makanan jenis ini adalah makanan khusus orang-orang yang ‘gila’ kembali ke alam. Terlepas dari itu semua, harus diakui jenis makanan ini baik untuk mengurangi efek negatif racun dari berbagai bahan kimia dan pestisida.
Istilah makanan organik tidak sepenuhnya mengacu pada objek makanan tersebut. Namun menyangkut bagaimana proses produksi dan pengolahan makanan. Jadi ada benarnya anggapan jenis makanan diproduksi tanpa menggunakan bahan-bahan kimia beracun.
Sampai sekarang kita tak bisa lepas sepenuhnya dari residu kimia dan pestisida. Contohnya tanah masih tetap mengandung bahan kimia karena penggunaan pupuk urea. Atau polusi udara dan air yang juga turut memberikan andil. Ini karena tidak semua petani Indonesia menggunakan sistem pertanian ekologis – memperhatikan kaidah kesehatan dan lingkungan.
Jadi, apa alasan kuat yang bisa diajukan untuk memilih makanan jenis ini.
Alasan
Hippocrates, pemikir ilmu kesehatan modern, mengungkapkan biarkan makanan menjadi obat Anda dan biarkan obat menjadi makanan Anda. Pemikiran Hippocrates tersebut sekarang digali ulang sebagai landasan mengapa kita seharusnya memilih makanan.
Alasan yang berikutnya adalah masalah masa depan. Generasi penerus kita tidak seharusnya menerima akibat negatif dari apa yang kita lakukan sekarang. Hasil studi terakhir membuktikan bahwa anak-anak terkena empat kali lebih banyak efek pestisida daripada orang dewasa.
Sampai sekarang tercatat setidaknya ada delapan jenis pestisida dalam makanan yang dapat menyebabkan kanker. Pilihan makanan yang non-residu kimia dan pestisida saat ini akan membawa pengaruh penting pada kesehatan generasi mendatang.
Juga masalah ini bersangkutan dengan kemauan kita melindungi kualitas air. Seperti kita tahu, dua pertiga dari tubuh kita mengandung air. Air juga memenuhi dua pertiga isi bumi ini. Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Tapi, hingga sekarang diperkirakan kebanyakan air tanah telah tercemar oleh pestisida.
Sudah ada 38 negara yang tingkat pencemaran airnya melebihi ambang batas, dan mirisnya berarti lebih dari setengah penduduk negara tersebut meminum air tercemar tadi.
Alasan lain adalah penghematan energi. Kebanyakan pertanian modern sekarang menggunakan bahan bakar minyak bumi. Hingga mencapai total 12 persen yang dikonsumsi oleh sektor tersebut. Berarti banyak energi yang dibutuhkan untuk memproduksi pupuk kimia daripada untuk mengolah dan memanen tanaman.
Secara kesehatan, pestisida ternyata bisa juga menyebabkan kanker. Hampir 1,4 juta kasus kanker di dunia disebabkan oleh bahan ini. Ternyata pestisida juga memberikan pengaruh pada cacat kelahiran, kerusakan syaraf dan mutasi genetik.
Memilih makanan ini berarti kita juga menolong kelangsungan hidup petani. Secara kesehatan, para pekerja pertanian terancam saat harus menggunakan pestisida. Ini karena aturan penggunaan pestisida di negara berkembang belum menjamin keamanan penggunaannya. Hingga sekarang diperkirakan satu juta petani mengalami keracunan pestisida per tahunnya. Beberapa jenis pestisida yang dilarang digunakan di negara AS ternyata masih diproduksi dan diekspor ke negara-negara berkembang tersebut.
Keuntungan
Memilih makanan organik ini bila dilihat dari segi nutrisi, ternyata mengandung kandungan gizi lebih baik dibandingkan dengan bahan pangan non-organik. Sehingga secara logika berarti lebih membantu proses pertumbuhan dan perbaikan tubuh bila mengalami masalah.
”Makanan juga jenis ini juga ternyata lebih hemat”, demikian menurut penuturan Ibu Bibong Widyarti D, salah seorang pengguna jenis makanan ini. Hal tersebut bisa dimungkinkan karena jenis makanan ini lebih lama basi, hingga tidak banyak beras yang terbuang, lanjutnya menguatkan.
Jadi, bukanlah hal yang merugikan bila kita memutuskan menggunakan jenis produk makanan ini sebagai alternatif makanan keluarga kita di rumah. Untungnya adalah penghematan proses produksi dan mengurangi tingkat kerusakan lingkungan di bumi yang kita cintai ini.
(str-sulung prasetyo)
Labels:
artikel kesehatan,
GFO,
Makanan Organik,
Melilea,
susu kedelai,
tips sehat
Subscribe to:
Posts (Atom)